SENI PERTUNJUKAN BALI DI DENPASAR DALAM KAJIAN GENDER
SENI PERTUNJUKAN BALI DI DENPASAR DALAM KAJIAN GENDER
Istilah
gender diperkenalkan oleh para ilmuwan sosial untuk menjelaskan perbedaan
perempuan dan laki-laki yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan dan yang
bersifat bentukan budaya yang dipelajari dan disosialisasikan sejak kecil.
Pembedaan ini sangat penting, karena selama ini sering sekali mencampur adukan
ciri-ciri manusia yang bersifat kodrati dan yang bersifat bukan kodrati
(gender). (Anderson 1983; 45)
Perbedaan peran gender ini sangat
membantu untuk memikirkan kembali tentang pembagian peran yang selama ini
dianggap telah melekat pada manusia perempuan dan laki-laki untuk membangun
gambaran relasi gender yang dinamis dan tepat serta cocok dengan kenyataan yang
ada dalam masyarakat.
Pengertian gender itu berbeda dengan pengertian jenis
kelamin (sex). Dengan demikian gender menyangkut aturan sosial yang
berkaitan dengan jenis kelamin manusia laki-laki dan perempuan. Perbedaan
biologis dalam hal alat reproduksi antara laki-laki dan perempuan memang
berbeda (perempuan mengalami menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui;
laki-laki membuahi dengan spermatozoa). Jenis kelamin biologis ini merupakan
ciptaan Tuhan, bersifat kodrat, tidak dapat berubah, tidak dapat dipertukarkan.
Namun demikian, kebudayaan yang
mempunyai budaya patriarki menafsirkan perbedaan biologis ini menjadi indikator
kepantasan dalam berperilaku yang akhirnya berujung pada pembatasan hak, akses,
partisipasi, kontrol dan menikmati manfaat dari sumberdaya dan informasi.
Akhirnya tuntutan peran, tugas, kedudukan dan kewajiban yang pantas dilakukan
oleh laki-laki atau perempuan dan yang tidak pantas dilakukan oleh laki-laki
atau perempuan sangat berbeda dari masyarakat satu ke masyarakat lainnya. Ada
sebagian masyarakat yang sangat kaku membatasi peran yang pantas dilakukan baik
oleh laki-laki maupun perempuan, misalnya tabu bagi seorang laki-laki masuk ke
dapur atau mengendong anaknya di depan umum dan tabu bagi seorang perempuan
untuk sering keluar rumah untuk bekerja. Konsep gender menjadi persoalan yang
menimbulkan pro dan kontra baik di kalangan masyarakat, akademisi, maupun
pemerintahan sejak dahulu dan bahkan sampai sekarang. Pada umumnya sebagian
masyarakat merasa terancam pada saat mendengar kata ‟gender‟.
(Moser 1993;81)
Seperti terdapat dalam sebuah seni
pertunjukan bali di Denpasar membahas semakin dominannya peranan wanita dalam
seni pertunjukan Bali, khususnya yang ada di Kota Denpasar, Di Bali termasuk
Kota Denpasar, masyarakat telah lama dapat menerima kaum wanita untuk ikut
ambil bagian dalam seni pertunjukan wali atau sakral dan seni
pertunjukan bebali sebagai pengiring upacara. Namun peluang bagi kaum
wanita untuk ikut berperan serta dalam seni pertunjukan sekuler atau balih-balihan terbatas, hingga tahun 1980an, masih
terbatas. Hal ini disebabkan oleh pandangan negatif dari warga masyarakat yang
cenderung menilai wanita pelaku seni pertunjukan sebagai wanita tidak bermoral
atau wanita murahan. Akan tetapi sejak awal tahun 1980an pandangan seperti itu
telah mulai berkurang karena masyarakat Bali mulai bisa menerima kaum wanita
untuk ikut berperan dalam kegiatan seni pertunjukan. Kondisi ini sangat
mendorong kaum wanita di Kota Denpasar untuk meningkatkan peranan dan
partisipasi mereka dalam aktivitas seni pertunjukan. Hingga kini keterlibatan
wanita dalam seni pertunjukan Bali di Kota Denpasar menjadi sebuah perubahan
prilaku berkesenian dalam seni pertunjukan Bali, fenomena budaya seperti ini
mengisyaratkan terjadinya kesejajaran gender dalam berbagai kegiatan sosial dan
kultural di kalangan masyarakat Bali. Selama dua puluh lima tahun belakangan
ini. Ada lima belas genre seni pertunjukan Bali, terutama dalam kelompok seni
pertunjukan hiburan atau balih-balihan, yang kini telah dimainkan oleh
wanita. Melalui proses globalisasi, pengadaptasian budaya asing (global) ke
budaya lokal (Bali), peranan dan partisipasi kaum wanita Kota Denpasar dalam
seni pertunjukan Bali meliputi pelaku, pencipta, dan pengatur/penyaji. Bahwa
perubahan-perubahan yang terjadi bukan suatu bentuk gerakan feminis untuk
mengambil alih dan mengganti posisi pria dalam seni pertunjukan Bali, melainkan
suatu realisasi dari kaum wanita Bali untuk ikut menjaga, melestarikan, dan
mengembangkan nilai-nilai seni dan budaya tradisional Bali. Meningkatnya
ketertarikan wanita Kota Denpasar untuk ikut serta dalam seni pertunjukan Bali
bukan diakibatkan oleh terjadinya kesenjangan gender tetapi oleh hasrat kaum
wanita untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga kelangsungan dari seni
pertunjukan Bali. (Wiratini 2007)
Untuk analisis masalah di atas
penulis menggunakan teori Feminisme. Teori fenimisme berangkat dari dasar
perbedaan gender, dimana perempuan kerap diperlakukan berbeda dari mereka yang
bergender laki-laki dan hal ini menjadi dasar pergerakan feminisme. Menurut
Goefe (Sugihastuti dan Suharto, 2002: 18) feminism adalah teori tentang
permasalahan hak antara laki-laki dan perempuan disegala bidang. Tujuan feminis
adalah mengakhiri dominasi laki-laki dengan cara menghancurkan struktur budaya,
segala hukum dan aturan-aturan yang menempatkan perempuan sebagai korban yang
tidak tampak dan tidak berharga.
Terjadi dalam seni pertunjukan Bali
di Denpasar yang memandang rendah terhadap perempuan, pandangan negatif dari
warga masyarakat yang cenderung menilai wanita pelaku seni pertunjukan sebagai
wanita tidak bermoral atau wanita murahan. Akan tetapi sejak awal tahun 1980an
pandangan seperti itu telah mulai berkurang karena masyarakat Bali mulai bisa
menerima kaum wanita untuk ikut berperan dalam kegiatan seni pertunjukan.
Kondisi ini sangat mendorong kaum wanita di Kota Denpasar untuk meningkatkan
peranan dan partisipasi mereka dalam aktivitas seni pertunjukan. Hingga kini
keterlibatan wanita dalam seni pertunjukan Bali di Kota Denpasar menjadi sebuah
perubahan prilaku berkesenian dalam seni pertunjukan Bali, fenomena budaya
seperti ini mengisyaratkan terjadinya kesejajaran gender dalam berbagai
kegiatan sosial dan kultural di kalangan masyarakat Bali.
Tiga peranan dari kaum wanita di
Kota Denpasar dalam seni pertunjukan Bali adalah sebagai pemain, pencipta, dan
pengelola. Sebagai pemain, kaum wanita berperan sebagai penari/aktor (pragina),
penabuh (juru gambel), dan dalang. Ketiga peranan ini mulai
berkembang di tahun 1970an. Sebagai pencipta, kaum wanita berperan sebagai
koreografer, komposer, dan penata busana. Peranan sebagai koreografer dan
komposer mulai muncul sejak pertengahan tahun 1980an. Peranan mereka sebagai
pengelola, yang mulai berkembang sejak tahun 1990an, meliputi pengelola
sanggar-sanggar tari dan kegiatan seni pertunjukan.
Bukan hanya itu Meningkatnya minat
wanita di Kota Denpasar untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan seni pertunjukan
Bali bukanlah merupakan suatu gerakan dari kaum wanita untuk mengambil alih
peranan kaum lelaki, atau suatu pemberontakan dari kaum wanita Bali terhadap
dominasi kaum laki-laki di bidang seni pertunjukan. keterlibatan mereka dalam
kegiatan seni pertunjukan adalah suatu realisasi dari upaya mereka untuk
bersama-sama kaum laki-laki untuk ikut mempertahankan, memperkuat, dan
mengembangkan seni dan budaya tradisional Bali. Partisipasi mereka seperti ini
telah merubah sikap masyarakat setempat dalam memperlakukan kaum wanita, terutama yang ikut dalam seni
pertunjukan, dalam aktivitas sosial dan kultural. Jika di masa lampau kaum
wanita lebih banyak dipandang sebagai ibu rumah tangga, dengan keterlibatan mereka
dalam seni pertunjukan, kini mereka dilihat dan diperlakukan sebagai seniman
seperti halnya kaum laki-laki. Keterlibatan dan partisipasi kaum wanita Bali
dalam aktivitas seni pertunjukan di daerah ini dimaksudkan untuk merubah
pandangan negatif terhadap kaum wanita di mata masyarakat serta anggapan
masyarakat terhadap kaum wanita yang selalu tergantung kepada bantuan kaum
laki-laki.
Sumber
referensi
Wicaksana,
I Dewa Ketut. 2000. “Eksistensi Dalang Wanita di Bali: Kendala dan Prospeknya
dalam Mudra. No. 9 tahun VIII. Denpasar: Sekolah Tinggi Seni Indonesia
(STSI).
Bandem,
I Made. 1983. Ensiklopedi Tari Bali. Denpasar: Akademi Seni Tari (ASTI)

Komentar
Posting Komentar