JURNAL SENI-BUDAYA DI GEOPARK CILETUH PELABUHANRATU
JURNAL SENI-BUDAYA DI GEOPARK CILETUH PELABUHANRATU
Pendahuluan
Ciletuh-Pelabuhanratu Unesco Global
Geopark (UGG) terletak dipulau Jawa, di
Kabupaten Sukabumi barat, Indonesia. Merupakan sejarah baru bagi dunia
pariwisata di Jawa Barat. Geopark
terletak diperbatasan zona aktif tektonik : Zona Subduksi antara lempeng
Eurasia dan lempeng Indo-Australia, yang terus bertemu pada 4 mm pertahun.
Daerah ini dicirikan oleh keragaman geologi langka yang dapat diklasifikasikan
menjadi 3 zona: zona subduksi batuan terangkat, Landskap dataran tinggi
Jampang, dan zona magmatic kunobergeser dan evolusi busur depan.
Bukti untuk proses Subduksi serupa
selama usia cretaceous (145-66 juta tahun yang lalu). Di temukan di daerah
Ciletuh dalam bentuk formasi batuan yang di simpan di dalam parit subduksi
dalam pada oligosen-miosen awal (sekitar 23-15 juta tahun yang lalu) daerah
tersebut mengalami peningkatan membentuk dataran tinggi Jampang. Proses
tektonik selama miosen-pliosen (5-8 juta tahun yang lalu) menyebabkan keruntuhan
gravitasi bagian formasi Jampang, membentuk morfologi amfiteater alam berbentuk
sepatu kuda terbesar di Indonesia dan serangkaian air tejun. Daerah itu bisa di
gambarkan sebagai ‘Tanah pertama di Jawa Barat’.
Ciletuh adalah nama sebuah sungai terpanjang
di sukabumi bagian barat daya. Hulu
sungai Ciletuh terletak di pegunungan ujung utara Kecamatan Waluran yang
mengalir di sepanjang perbatasan Kecamatan Waluran dan Kecamatan Ciemas, dan
bermuara ke laut selatan perbatasan Kecamatan CIemas. Di bagian hulu sungai Ciletuh menjadi perbatasan kedua Kecamatan tersebut. Oleh
karenannya percaturan kebudayaan masyarakat di kedua Kecamatan ini merupakan
wilayah budaya Pajampangan yang terdiri atas 8 Kecamatan. Di kawasan sungai
Ciletuh terdapat daerah yang merujuk pada sosial-budaya yaitu “Pajampangan”.
Masyarakat sekitar menyebut diri mereka sebagai orang Jampang atau Pajampangan.
Pembahasan
Dijadikan sebagai wilayah yang
diakui oleh UGG, Ciletuh juga mempunyai Seni-budaya yang berpotensi
dikembangkan dalam pariwisata.
Kawedanan Jampang kulon merupakan
system pemerintahan zaman dahulu yang menjadi batasan peta budaya Pajampangan
pada delapan wilayah Kecamatan. Demikian, ada juga wilayah administratif lain
yang terkait dengan “Jampang”. Wilayah pertama adalah (Kawedanan) Jampang
Tengah yang berada di sebelah utara, wilayah kedua adalah (Kawedanan) Jampang
Timur yang berada di sebelah timur. Jampang Tengah masih berada dalam wilayah
Kabupaten Sukabumi, sedangkan Jampang Timur masuk dalam wilayah Kabupaten Cianjur.
Menelusuri kehidupan Seni Budaya di
kawasan Geopark Ciletuh, khususnya di empat Kecamatan (Waluran, Ciemas,
Ciracap, dan Jampang Kulon) ditemukan beberapa jenis kesenian yang kondisi dan
situasinya berbeda. Sebagian kecil kesenian itu masih hidup dan masih sering di
tanggap masyarakat untuk berbagai kepentingan. Tetapi, sebagaian besar kesenian
tersebut berada diambang kepunahan, bahkan beberapa telah lama punah. Beberapa
jenis kesenian tersebut sebagai berikut.
1.
Buncis
Buncis
atau dikenal dengan Angklung Buncis adalah nama kesenian rakyat yang tersebar
di Jawa Barat dengan seperangkat Angklung (5-9 buah) dan alat musik lainseperti,
dog-dog, kendang, tarompet, kecrek, dan lain-lainnya. Tetapi, dalam dunia
tetumbuhan Buncis (Phaseolus vulgaris) adalah
nama sejenis nama polong-polongan yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia.
Selain itu, Buncis adalah satu lagu dolanan anak (permainan anak) yang cukup
populer pada masa nya.
Lagu
tersebut berlaras salendro dengan syair sebagai berikut :
Cis kacang buncis nyengcle
Ti anggolati inem
Anu geulis ancla-encle
Jeung aluman-alimen
Cis kanag buncis nyengcle
Ti angggolati kuda
Anu geulis tembong pingping
Keun wae keur kaula
Pada
masa lalu, pertunjukan (Angklung) Buncis terkait dengan ritus padi ( tanam dan
panen). Namun, seiring perkembangan zaman ritus padi tersebut banyak
ditinggalkan dan pertunjukan Buncis pun lambat lun memudar. Demikian pula, seni
Buncis hidup di kawasan Pajampangan, terutama Buncis yang hidup di kawasan
Ciemas dan Ciracap yang tidak terkait dengan ritus penghormatan terhadp Nyai
Pohaci Sanghyang Sri (Dewi Sri)
melainkan merupakan seni hiburan yang biasa di tangggap untuk kepentingan acara
yang bersifat profane seperti khitanan, kawinan, hajatan, dan lain-lainnya.
Di
dalam Buncis terdapat beberapa gabungan unsur seni seperti, seni music, tari,
teater, bodoran, atraksi, dan gondang. Alat-lat music yang terdiri dari 5 buah
Angklung berlaras salendro, sebuah dog-dog kecil, seperangkat kendang ( kendang
indung dan dua buah kulanter), jidor (kendang besar), kenong, kecrek, tarompet
dan goong. Dalam pertunjukannya terdapat pakem yang harus dipatuhi para
pemainnya. Misal, dalam lagu wawayangan - musik intrumentalia sebagai pemuka
pertunjukan - para nayaga tidak diperkenalkan senggak dan penari lain tidak
boleh menari. Lagu wawayang juga harus dimainkan sebanyak tiga kali. Lagu pokok
dalam pertunjukan buncis adalah onde-onde. Lagu tersebut tanpa rumpaka atau
tanpa syair dan melodinya dibawakan oleh tarompet. Lagu-lagu yang dimainkan
antara lain, eket-eket renggong, alon-alon, jemen, karang asin, kukuk palid,
kolearan, dan sebagainya.
Dalam
pertunjukan Buncis terdapat dua orang ronggeng yang diperankan oleh laki-laki
yang di dandani seperti wanita (transvestite).
Lama pertunjukan Buncis sehari atau semalam suntuk, dimulai pukul 8 atau 9
siang atau malam sampai pukul 3 atau 4 sore atau dini hari.
2.
Janeng atau Jamjaneng
Janeng
atau Jamjaneng merupakan kesenian yang memakai rebana sebagai alat musik utama.
Seni Janeng merupakan nyanyian yang berisi sholawatan berbahasa arab dengan
diiringi terebang. Dalam Janeng ini terdapat pula alat musik lain yaitu Calung.
Menurut Fitrianto (2015:3) kata Janeng atau Jamjaneng adlah sebuah kata yang
diambil dari nama penciptanya yaitu kyai zamzani. Tetapi, orang lebih mudah
mengucapkan dengan sebutan kyai Jamjani. Ketika beliau meninggal kesenian
tersebut belum dinamai dan masyarakat memberikan nama kesenian tersebut dengan
Jamjanian, lalu berubah menjadi Jamjanen dan berubah menjadi Jamjaneng atau
Jamjanengan. Kesenian tersebut sering dipentaskan dalam acara syukuran atau
kenduri seperti khitanan, kawinan, muludan, rajaban, suroan, dan sebagainya.
3.
Cepet, Jae atau Kuda Lumping
Pertemuan
dua budaya, anatar Jawa dan Sunda, yang diwujudkan melalui kesenian kuda lumping, telah menghadirkan
keunikan tersendiri. Masyarakat di kawasan Pajampangan menyebut seni kuda lumping ini cepet atau jae. Cepet adalah pertunjukan yang memiliki
unsur. Berbagai elemen dan karakter muncul dalam cepet . Secara harfiah, cepet
artinya sama dengan “kedok” atau “topeng”. Dalam grup cepet, topeng-topeng yang dipertunjukannya itu berukuran
besar-besar, dirakit menjadi satu dengan bagian kepala dan rambutnya.
Pertunjukan cepet dilaksanakan pada
siang hari, malam hari, atau siang, atau siang sampai malam, serta diadakan
diruang terbuka yang relative luas seperti alun-alun. Adapun istilah jae, yang unik tidak dipakai di daerah
lainnya, menurut sebagian pelakunya adalah singkatan (akronim) dari “Jawa
edan”. Akronim tersebut tidak bermakna negative, justru sebaliknya, sebuah
sanjungan bahwa orang Jawa adalah orang hebat,
dalam jargon informal biasa dipakai kata “edan”. Kehebatan kata tersebut dapat
mengundang dan memulangkan kembali roh halus yang merasuk pada para pemain kuda lumping. Adapun sebagian orang mengatakan
bahwa istilah jae itu diambil dari
suara senggakan para nayaga (pemusik) pada waktu pertunjukan,
yang berbunyi: jae, jae (atau ya’e, ya’e). dari suara itulah kesenian
ini disebut jae. Jae hanya berarti pada nama jenis kesenian (dan pertunjukannya),
sedangkan cepet memiliki dua arti.
Pertama, cepet yang berarti “jenis
kesenian” seperti halnya jae, dan
yang kedua berarti “topeng” (kedok).
4.
Pencak Silat
Dala
percaturan dunia persilatan (pencak, maenpo, atau ulin) yang hidup di Jawa
Barat dikenal dua jenis pencak, yakni pencak kembang dan pencak kemang. Pencak
kembang atau yang sering disebut juga pencak ibing (tari pencak) adalah pencak
yang berbentuk tari dan lebih di fungsi kan pada kepentingan hiburan. Pencak
kembang senantiasa diiringi oleh beberapa instrument music yang terdiri atas
dua set kendang ( kendang indung dan kendang anak, dengan masing-masing dua
buah kulanter), tarompet dan goong yang kemudian sering disebut gamelan pencak.
Sementara itu pencak eusi adalah pencak untuk bela diri yang difungsikan untuk
mempertahankan diri dari berbagai serangan lawan.
5.
Sawer
Arti
sawer dalam bahasa sunda artinya air. Air yang jatuh dari genting atau atap
karena teriup air. Oleh sebab itu nyawer (dalam konteks adat) biasanya
dilakukan di halaman rumah tak jauh dari jatuhnay air dari atap. Dalam konteks
kesenian sawer adalah seni menyanyi berupa lantunan tembang yang syairnya
berbentuk paparikan atau pupuh yang isinya berupa petuah bagi yang disawer juga
bagi yang hadir menyaksikan. Dalam konteks seni pertunjukan sawer atau nyawer
adalah melemparkan uang atau benda-benda lain (misalnya rokok) ke atas panggung
sebagai tanda kegembiraan atau kepuasan seseorang pada penampilan pertunjukan
itu. dikawasan geopark Ciletuh terdapat berbagai macam sawer yang terdiri atas
sawer panganten, sawer sepitan, dan sawer orok. Inti dari ke 3 jenis sawer itu
adalah ngalap berkah ( berharap berkah). Naskah sawer yang beredar di para
penembang di kawasan Pajampangan ditulis dalam huruf latin ataupun dalam huruf
arab pegon.
6.
Tembang
Tembang
(bahasa sunda) yang artinya nyanyian, nembang artinya menyanyi. Tembang di
maknai sebegaia penguatan bagi suatu genre music yang gayanya khas dibandingkan
dengan nyanyian lain pada umumnya. Di kawasana Pajampangan Kab Sukabumi istilah
Tembang lebih merujuk pada suatau jenis kesenian yang hidup di masyarakat
yakni, seni menyanyi yang berlandaskan pada pupuh. Tembang gaya pajampangan
hany dilantunkan oleh seorang atau dua orang penembang baik lelaki ataupun
perempuan. Tembang Pajampangan mirip dengan seni beluk yany terdapat disekitar
wilayah Kab Bandung ; Gaok di wilayah Kab Majalengka ; atau bujanggga di
wilayah Kab Cirebon dan Indramayu. Seni beluk, Gaok dan Bujanggga bertumpu pada
suatu naskah yang paparannya di wujudkan dalam bentuk bermacam-macam pupuh.
Naskah itu biasanya ditulis dalam huruf pegon atau arab pegon, hurf sunda atau
dengan huruf latin. Yang mengisahkan tentang legenda, babad, atau sejarah.
Penyajian tembang biasanya disajikan untuk berbagai kepentingan missal, untuk acara
kenduri seperti khitanan dan kawinan, atau dalam upacara daur hidup lainnya.
Biasanya dalm penyajian tembang di mulai pada pukul 9 malam sampai menjelang
subuh.
7.
Wayang Kulit
Wayang
kulit adalah kesenian tradisional Jawa berupa permainana wayang ( boneka)
berbentuk dua dimensi oleh seorang dalang dengan mengambil lakon tertentu,
dengan iringan music gamelan dari para nayaga dan lantunan tembang dari para
sinden. Wayang kulit dibuat dari kulit kerbau berbentuk lembaran yang dihias
dengan motif tatah sungging (ukir kulit). Wayang kulit biasanya dimainkan
semalam suntuk dengan mengambil lakon dari epos Mahabarata dan Ramayana (yang
merupakan cerita standar). Wayang kulit
sudah ada sejak zaman Wali songo sebagai pengembangan dari wayang beber yang
ada pada zaman Majapahit. Kini wayang kulit menyebar di tanah sunda tepatnya di
Desa Sidamulya, Kec Ciemas, Kab Sukabumi.
8.
Wayang Golek
Kehadiran
wayang golek di wilayah Pajampangan dan Jawa Barat pada umumnya dipandang
paling populer dan sangat digemari masyarakat. Dalam wayang golek ke khasan
seorang dalang biasanya tergantung dari guru pangggungnya kepada siapa ia
nyantrik (berguru) apa yang ia lihat dan dengar ketika di pangggung itulah yang
akan dijadikan patokan manakala ia mendalang.
9.
Ketoprak
Ketoprak
adalah teater tradisional yang terdapat di Jawa Tengah, Yogyakarta dan sebagian
Jawa Timur. Ketoprak menyajikan cerita tentang legenda epos, mitos, dan sejarah
yang ada di Jawa. Dalam pementasannya ketoprak diiringi music gamelan disertai
nyanyian-nyanyian Jawa. Pertunjukan ketoprak dipentaskan pada malam hari dengan
lakon yang di mainkan antara lain, ande-ande lumut, damar wulan, angling darma.
10
Batik Pakidulan
Wilayah
Geopark Ciletuh menyimpan potensi dan ke elokan seni budaya salah satunya
adalah seni kerajinan batik pakidulan yang terdapat di Kampung Cikaret, Desa
Purwasedar, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, sekitar 120 KM dari Kota
Sukabumi. Dengan motif batik kima emas,
penyu midang, wapel, centreng, cimarinjung, manuk suka bungah, pari, engkang-engkang,
bintang, kerang, panenjoang, soang geboy, dan suku ratu.
11.
Gamelan
Seni
kliningan atau nyanyiin berbahasa sunda dengan iringan seperangkat gamelan
salendro namun masyarakat Kampung Pasir Ceuri Desa Cibenda menyebutnya dengan
Degung. Ansambel degung terdiri atas dua buah saron, kedemung, bonang, kendang,
goong, gambang, dan rebab. Lagu yang biasa dinyanyikan antara lain kulu-kulu
bemnaek, kulu-kulu gancang, rengggong bandung, kastawa, senggot, kawitan naek
badaya, banjaran, panglima, sinyur, kiser saidah, salah sangka, pelesiran,
serat salira, sorong dayung, dan sebagainya.
12.
Reog
Dikawasan
Pajampangan seni reog hanya terdapat di Desa Caringin nunggal Kec. Waluran.
Reog adalah seni music tradisional yang alatnya dinamakan dog-dog. Sebagian ditabuh
menggunakan alat pemukul dan sebagian lagi dipukul dengan telapak tangan. Dalam
pertunjukan reog selain menyajikan permainan tabuh dog-dog juga disertai
nyanyian dan lawakan.
13.
Gondang
Pada
awalnya gondang merupakan bagian dari ritus sanghyang
sri nyi pohaci. Suatu ritus untuk menghormati dewi padi yang biasanya di
laksanakan setelah panen. Selanjutnya gondang berkembang menjadi seni
pertunjukan yang intinya merupakan kisah kasih muda mudi di pedesaan. Di
kawasan Pajampangan seni gondang terdapat di beberapa desa antara lain di
Kampung Sindanghayu Desa Cibenda dan Kampung Cibihbul serta Desa Waluran. Salah
satu alat yang sangat vital dalam gondang adalah lisung (lesung) dan halu
(alu).
Bagian-bagian
lisung diantaranya lubng pangkal yang disebut keblok, lubng tengah yang disebut
ambarun, dan sisi kiri kanan amburan yang disebut biwir lisung (bibir lesung).
14.
Anggguk
Angguk
adalah seni yang sangat mirip dengan sandiwara tradisional di Cirebon dan
Indramayu. Angguk diiringi oleh terebang sebanyak 4 buah dan sebuah jidor.
Tabuhannya mirip dengan terebang sholawatan di daerah Subang, Kuningan,
Sumedang, Bandung, dan lainnya. Angguk biasanya membawakan cerita yang
bernafaskan islam yang berkaitan dengan tokoh-tokoh islam seperti cerita Amir
hamzah, Umar maya-Umar madi, dan sebagainya.
15.
Musik Dangdut
Musik
Dangdut adalah music populer Indonesia perpaduan antara music India, Melayu,
Arab, dan Barat. Dangdut diambil dari bunyi “dang” dan “dut” dari sepasang
kendang yang dimainkan didalamnya. Di wilayah Pajampangan orkes dangdut
biasanya berlangsung lama yaitu antara pukul 9 pagi sampai dengan 11 malam.
15.
Ole-Olean
Ole-olean
adalah permainan anak di kampung yang terbut dari batang padi ( jerami)
diujungnya di lilitkan daun kelapa sepanjang kurang lebih 10 cm yang kemudian menyerupai ujung terompet.
Jerami yang baik untuk ole-olean biasanya dipilih yang berdiameter setengah cm,
lalu dipotong dengan panjang sekitar 8-9 cm. untuk menghasilkan suara, jerami
sepanjang itu pada bagian pangkalnya diremas hingga pecah. Panjang pecahan
hasil remasan itu biasanya berjarak kurang lebih 2 cm dan pecahan itulah yang
kemudian akan menimbulkan suara.
Kesimpulan
Geopark
Ciletuh adalah taman bumi yang termasuk dalam kawasan konservasi, yang dimiliki
unsur keragaman geologi, keragaman hayati, keragaman budaya yang di dalamnya
memiliki aspek dalam bidang pendidikan sebagai pengetahuan di bidang ilmu
kebumian pada keunikan dan keberagaman warisan bumi dan aspek ekonomi dari
peran masyarakat dalm pengelolaan kawasan sebagai geowisata. Adanya peran dan
partisipasi masyarakat lokal yang aktif dan paham akan pengertian Geopark itu
sendiri. Lambat laun Geopark Ciletuh ini memperlihatkan hasil positif walaupin
belum secara total dan menyeluruh di karenakan kawasan ini memiliki lahan yang
cukup luas dan masyarakat yang harus yang harus di bina pun masih banyak.

Komentar
Posting Komentar