KAIN GRINSING KHAS BALI
KAIN
GRINSING KHAS BALI
Seni tenun di daerah-daerah lainnya
di Nusantara sekilas tampak memiliki pola-pola hias yang hampir sama. Kendati
demikian, kain-kain tersebut tetap mempunyai ciri, keunikan, dan kekhasannya
tersendiri. Hal ini menjadi bukti bahwa setiap daerah atau kelompok komunitas
memiliki ungkapan keindahannya sendiri yang dipertahankan dan dituangkan
kedalam sehelai kain tenun.
Keindahan dari tenun ikat merupakan
wastra yang tidak dipisahkan dari dunia wastra tradisional Indonesia. Wastra
tenun ikat ini tersebar di berbagai wilayah Sumatra, Sulawesi, Jawa, Bali,
Lombok, NTT, dan berbagai wilayah lainnya. Wastra tenun ikat ini mempergunakan
teknik ikat ganda, dimana benag lungsi maupun benang pakan diikat sesuai dengan
pola-pola yang diinginkan. Bagaian-bagian benang yang di tutupi oleh ikatan
(dirintang) bila dicelup warna akan nampak putih atau warna dasar dari benang
tersebut karena terhalang oleh ikatan sebagai perintang warna.
Proses selanjutnya adalah dengan
cara diulang untuk mendapatkan warna-warna yang dikehendak. Wastra tenung Gringsing adalah kain tenun tradisional
Indonesia yang dibuat menggunakan teknik
teknik dobel ikat dan memerlukan waktu 2-5 tahun untuk menyeleaikannya. Kain Gringsing berasal dari Desa Tenganan,
Bali.
Kain Gringsing berasal dari kata ‘gring’
yang artinya ‘sakit’ dan ‘sing’ yang arinya ‘tidak’, sehingga
bila digabungkan menjadi ‘tidak sakit’. Maksud arti kata tersebut adalah
sebagai penolak bala yaitu mengusir penyakit yang bersifat rohani dan juga
jasmani, serta sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan
budaya kain. Di Bali, kain Grinsing
digunakan dalam berbagai upacara seperti upacara potong gigi, pernikahan, dan
upacara keagamaan lainnya. Pada setiap upacara adat maupun upacara keagamaan
tepatnya di Tenganan masyarakat selalu mengenakan kain Grinsing karena fungsi dan makna kain tersebut sangat penting dalam
kehidupan masyarakat. Kain grinsing
menjadi cerminan perjalanan kehidupan masyarakat.
Kain Grinsing memiliki tiga kompenen warna yaitu kuning, merah dan
hitam. Semua teknik pewarna dilakukan secara tradisional dengan memanfaatkan hasil
alam disekitar. Warna kuning didapatkan dari perampuran minyak kemiri, warna
merah didapatkan dari warna kulit kayu mengkudu serta warna hitam di dapatkan
dari percampuran daun indigo yang menghasilkan warna biru dan dicampurkan
dengan warna merah. Tiga warna dalam kain tersebut memiliki filosofi tersendiri
masyarakat mempercayai apapun yang ada didunia ini memiliki makna dan tujuan
penciptaan tersendiri, sama seperti kain Grinsing
yang memiliki makna penting bagi masyarakat. Warna kuning pada kain Grinsing melambangkan angin yang
mengandung oksigen untuk kehidupan manusia, jadi alam raya yang menghasilkan
oksigen dari tubuhnya harus dijaga dengan baik untuk kelangsungan hidup umat
manusia. Warna merah sendiri
melambangkan api yang merupakan panas bumi yang memberi energy dan kehidupan
dimuka bumi. Warna hitam melambangkan air yang memberi penghidupan untuk seluruh
makhluk dimuka bumi. Selain simbol dan pemaknaan kain sebagai angin, api dan
air. Masyarakat meyakini bahwa warna pada kain Grinsing menyimbolkan Tri Murti dalam agama Hindu. Warna kuning
melambangkan Brahma sebagai pencipta, warna hitam melambangkan Wisnu sebagai
pemelihara dan warna merah melambangkan Siwa sebagai Pelebur, dengan harapan
orang-orang yang mengenakan kain ini selalu mengingat dan memposisikan Tuhan
sebagaia prioritas utama didalam dirinya serta selalu bersifat rendah hati
karena manusia hanyalah kompenen kecil dari pencipta semesta.
Secara keseluruhan kain Grinsing memiliki 25 moiv. Beberapa
diantaranya adalah lubeng, cecempreng, cemplong, teteladan, batur tuwung,
dingding ai, kesitan pedag, cakra, enjekan siap, pepare, gegonggangan, patlikur
isi, wayang putri, wayang kebo, wayang candi, putri dedari, dingding sigading,
prebon, tali dandan, dan lainnya. Dari motif-motif tersebut menggambarkan
tentang alam, tumbuhan, atribut dewa, penokohan wayang, dan hewan. Bagi
masyarakat tenganan pegringsingan tidak ada makna spesifik terkait motif-motif
dari kain Grinsing tersebut. Namun
ada hal yang lebih penting dari kain Grinsing
yaitu sebuah maha karya yang indah dibalik keterbatasan dan kesederhanaan para
leluhur dimasa lalu. Masyarakat mempercayai bahwa mempertahankan dan
melestarikan kain Grinsing merupakan
salah satu bentuk penghormatan agung kepada leluhur. Bentuk penghormatan
tersebut mereka wujudkan dengan mewajibkan mengenakan kain Grinsing pada pada setiap upacara adat maupun keagamaan. Serta
masyarakat meyakini bahwa pemahaman makna filosofi yang mendalam dari
masyarakat menjadikan masyarakat selallu berupaya menjaga keselarasan hidup
untuk mencapai kebahagiaan sesuai kensep Tri Hita Karana.
Komentar
Posting Komentar