Kelebihan dan Kekurang Gedung Kesenian Rumentang Siang - Bagaimana Pamor di Masyarakat Modern
Rumentang siang. Adalah sebuah nama gedung di kota Bandung yang terletak di Jl. Baranang Siang No. 2, letaknya dekat dengan gedung Pasar kosambi. Rumentang siang sebenarnya adalah gedung kesenian yang sering digunakan untuk berbagai aktivitas seni di kota Bandung.
Gedung
Kesenian Rumentang siang dibangun pada tahun 1935, yang dinamakan Rivoli Theater.
Gedung itu diperuntukkan sebagai pertunjukkan opera. Setelah Indonesia merdeka,
gedung ini diambil alih menjadi gedung bioskop bernama Fajar. Kemudian, Pada
tahun 1975 gedung ini difungsikan sebagai gedung kesenian oleh Gubernur Jawa
Barat, Solihin GP yang bertugas pada masa itu. Sebagai persembahan bagi segenap
seniman dikota bandung sebelum masa jabatannya berakhir. Karena pada waktu itu
fasilitas gedung kesenian yang ada di kota Bandung sendiri hanyalah gedung Yayasan
Pusat kebudayaan (YPK) Bandung.
Nama
Rumentang siang sendiri diberikan oleh seorang seniman, Wahyu Bisana. Jika
diartikan dalam bahasa Sunda Rumentang diambil dari kata rentang-rentang atau
samar-samar terlihat dari kejauhan , sedangkan siang memiliki arti kata nyata. Jadi
dapat di artikan bahwa Rumentang siang ialah jelas atau nyata atau menyambut
pengunjungyang nyta terlihat dri jauh. setelah adanya gedung Kesenian Rumentang
siang. Sebenarnya sebelum dinamai dengan nama Rumentang siang sempat terlontar
nama Andaga Bandung oleh Walikota Bandung saat itu, Oce Djunjunan. Namun nama
Rumentang siang yang di pilih dan digunakan hingga saat ini.
B.
Kelebihan dan Kekurangan
Terhitung
sudah 83 tahun usia dari gedung kesenian ini. Gedung kesenian Rumentang siang
sendiri memiliki kapasitas 370 orang penonton. Dengan luas panggung 8 x 12
meter persegi, yang sebenarnya kurang memenuhi syarat panggung untuk sebuah
pertunjukan.
Adapun
kelebihan dari Gedung Kesenian
Rumentang Sendiri ialah, mempunyai toilet di depan dan di belakang, mempunyai
kantor administrasi untuk mengatur jadwal pementasan di Gedung kesenian
Rumentang siang, mempunyai ruang latihan yang cukup luas ukuran 5 x 8 meter
dengan kaca, mempunyai ruang make up aktor atau penari, mempunyai ruang
logistik, mempunyai ruang lighting, mempunyai mushola, sudah menggunakan AC,
lobby yang dapat digunakan untuk pameran, namun yang menjadi keunggulan dari
Gedung kesenian Rumentang siang ini ialah akustik yang cukup bagus.
dan
ada juga kekurangan dari Gedung
kesenian Rumentang siang ini ialah kurangnya logistik atau artistik yang
memadai pada setiap pementasan, kurang layaknya bangku penonton yang sudah
mulai rusak, kurangnya kebersihan yang tertata terutama di ruangan logistik,
kurangnya wilayah parkiran yang sempit namun terbantunya dengan wilayah kosong
yang berada di sebelah gedung kesenian rumentang siang ini.
namun
dengan luas gedung yang dirasa kurang layak dengan luas 22 x 12 meter gedung
ini masih dapat bertahan. Padahal Rumentang siang memiliki andil yang sangat
besar bagi perkembangan seni di Kota Bandung khususnya. Rumentang siang bukan
hanya sekedar memiliki fungsi sebagai sebuah tempat berlangsungnya berbagai
pertunjukan kesenian, dari mulai sandiwara, wayang orang, tari, teater, atau
pembacaan puisi saja. Namun di gedung kesenian inilah sejumlah seniman Kota
Bandung, terutama para aktor teater dilahirkan.
Makin
turun pamor
Dahulu,
gedung ini sering dijadikan perhelatan gedung asing, seperti dari negara
Jerman, Inggris, Perancis dan Jepang. Dibangunnya gedung-gedung kesenian lain
yang lebih strategis dan megah menjadi salah satu faktor makin turunnya pamor
Rumentang Siang.
Selain
itu, kondisi internal gedung pun sudah tidak memungkinkan untuk diadakan acara
pertunjukan besar. Kursi-kursi penonton yang harusnya diganti berkala, hanya
baru diganti 2 kali semenjak tahun 75.
“Fisik
gedung mebuat kami tak berani lagi menawarkan tempat untuk perhelatan besar
seperti itu lagi, ceuk urang sunda
mah, era parada,” tambah Cece yang telah menjabat 4 tahun
sebagai pimpinan.
Namun
demikian, tak berarti Rumentang Siang tak lagi diminati oleh pencinta seni.
Gedung 2 lantai ini masih sering dipakai komunitas-komunitas kesenian, seperti
AAP, Teater Sunda Kiwari, Teater Bandung. Juga sering dipakai oleh grup umum,
seperti dari anak-anak SMA, atau mahasiswa. Bahkan mahasiswa Sastra Inggris UIN
SGD Bandung biasanya mengadakan acara annual pertunjukan karya sastra
sunda di Gedung ini. Selain itu, tempat ini pun sering dijadikan tempat
pertemuan seni dan budaya. Seperti, diskusi sastra, bedah buku, film dan lain
sebagainya.

Komentar
Posting Komentar